Make your own free website on Tripod.com
Bab 11
MENGETAHUI QIAMAT ITU ADA ATAU TIDAK,
BAGAIMANA KEJADIANNYA DAN BUKTINYA

Wedaran Wirid sebenarnya tidak akan ada yang kosong, semua terisi. Kalau tidak menerangkan tentang mati, sesudah mati Rohnya pergi kemana, dan apa hukumannya (apa yang dirasakan), dan bagaimana caranya mati itu?, karena keterangan itu sebenarnya berhubungan dengan Qiamat. Maka kata-kata ayat suci Qur’an surat Az-Zumar : 42;


“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”

Qur’an surat Ali-Imran : 143 ;


“Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; sesungguh kamu telah melihatnya dan kamu menyaksikannya”

Hadist Bukhari : 42; perkataan Nabi Muhammad SAW tentang Qiamat; tanda-tanda Qiamat yaitu : kalau ada pembantu melahirkan majikannya, dan nanti kalau ada pengembala unta naik kerajaan yang megah, hidupnya benih-banih karena ditanam ditanah dan mendapat zat-zat (pupuk) kebutuhan tanaman, tetapi kalau tidak diberi sifat hidup (Hayat) pasti tidak tumbuh.
Jadi Hakikat hidup itu walaupun yang tidak bergerak tetap mempunyai sifat hidup (Hayat), dan memakai sifat Qiyamuh Binafsihi (berdiri sendiri). Jadi tanda hidup menurut lahiriah yang bisa bergerak itu sebenarnya kurang tepat.
Apa ada makhluk yang hidupnya yang ditempat sangat panas atau sangat dingin ?. ada sedikit kutipan dari surat (buku) Jaya Baya; makhluk-makhluk basil titanus dan Cofoxtof itu kalau kena api yang sangat panas 6000 C masih bisa hidup, karena Qodratnya Allah, umpama basil yang dua jenis tadi kalau terkena panas bisa berubah warna seperti mempunyai lapisan yang sangat keras sekali. Yang bisa menahan panas yang sangat panas sekali, kalau panasnya sudah reda, basil tadi hidup seperti bisaa.
Diangkasa yang tingginya 8 – 9 km dari bumi disebut Statosfir, dan suhunya 7,80C dibawah 0 (nol), menurut keterangan penerbang angkasa Inggris tahun 1938, disitu ada makhluk Allah yang berkelompok-kelompok; umpama yang tidak pakai alat kena udara dingin tubuh bisa menjadi Es (membeku). Makhluk yang berkelompok-kelompok tadi memakai sayap, tanpa tempat dan tanpa udara panas, tanpa makan, tetap masih hidup dan bergerak. Jadi Allah lebih Maha melihat dan Maha mengetahui.
Jadi sifat abadi itu meliputi seluruh yang diciptakan, jadi yang mengetahui semua itu melalui akal yang sempurna. Begitulah Hakikatnya hidup dialam kubur, dan alam gaib yang tidak kasat mata (tidak bisa dilihat dengan mata) walaupun memakai kaca pembesar.
Seluruh alam mempunyai sifat-sifat dan keadaan sendiri-sendiri, tergantung yang menempati;
1. Alam yang bisa dilihat dengan mata, yang menempati bisa melihat.
2. Gaib ditempati oleh yang gaib-gaib.
3. yang tidak bisa dilihat, yang menempati yang tidak bisa dilihat.

Terhadap Roh jasmani tempatnya atau ukurannya meliputi luasnya, itu bisa dilihat melalui alat gaib yang terdapat pada manusia sendiri. Karena Dat Allah meliputi keseluruhan dialam tadi, dilipiti Dat Allah, tetapi tergantung dengan sifat hidupnya sendiri;
a. Sifat 20 dikuasai oleh manusia.
b. Alam dunia, lautan, hewan-hewan hanya memakai salah satu sifat 20.
c. Alam gaib, makhluknya memiliki salah satu yang sebahagian besar hanya hidup (Hayat).

Sebelumnya menerangkan tentang kematian (mati), terlebih dahulu menyimak di Al-Qur’an surat Fushshilat : 54 ;


“Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.” (lihat Bab sifat 20 diatas)

Di Hudayana Jaya Baya; disebut sebagai contoh, di universitas Ohio (AS) bagian fisika, ada salah satu sarjana memeriksa sepanjang pesisir lautan ada benteng-benteng. menurut penelitian berdasarkan spektraal analyse; umurnya mencapai 1,5 juta tahun, pengukur tadi bukan hanya memegang saja tetapi dipecah karang tadi, dengan tidak diduga-duga didalam karang tadi terdapat benda bulat panjang menempel diliku-liku karang seperti aliran air, bisa bergerak pelan-pelan. Intisarinya; karang yang terdapat didalamnya selama 1,5 juta tahun bisa bergerak-gerak hidup, itulah kekuasaan Allah yang maha tahu.

Al-Qur’an Az-Zumar : keterangannya; berhubungan dengan kematian.
Tidur itu pekerjaan tubuh karena capek (lelah) dan sangat mengantuk, alat panca indra berhenti lalu tidur, bukan manusia saja, hewan dan makhluk-makhluk lainpun sama, itu semua sudah dikodratkan menurut kehendak yang Kuasa. Yang membuat heran, kalau mata sudah mengantuk tidak bisa dicegah (ditahan), lihat sifat 20 tentang Qiyamuh Binafsihi; bangun sendiri, berdiri sendiri dan mati sendiri, tidak bisa ditolak (otomatis).
Bila dipikir; bangun dan tidur itu pelengkap hidup, tidur ditidurkan, bangun dibangunkan oleh sifat Allah (Qiyamuh Binafsihi). Manusia tidak bisa menguasai Kodrat, siapa yang menidurkan bayi dan siapa yang membuat bayi lahir, ibunya atau orang lain, jawabnya; “tidak tahu”.
Diayat suci Al-Qur’an, Qiyamuh Binafsihi itu otomatis meliputi jasmani, hidup, bangun, tidur, dan bergerak itu semua tugasnya (sifat Qiyamuh Binafsihi). Karena tidur itu pekerjaan yang bisaa, tetap lama dan tidaknya tergantung yang menjalani, karena tidur itu semua alat kasar dan halus sedikit demi sedikit berhenti, dan sarafnya berhenti sehingga tidak terdengar suara musik, letusan, jadi tidak bisa mengganggu tidurnya. Karena, mata, telinga, hidung, lidah, kulit, tidak berfungsi, tidur sangat berbahaya, bahayanya tidak mengetahui dan tidak bisa mengatasi, tergantung kekuasaan Allah.

A. Mati itu sama dengan tidur.
walaupun tidurnya sangat lelap seperti orang yang mati, tetapi masih ada perasaan yang berbahaya, Roh jasmaninya (Rasajati-jawa). Sifat Allah No.9 dan 12; Ilmu dan Bashar, walaupun orang tidur roh jasmaninya tetap bekerja mengetahui apa-apa, yang disebut mimpi. Tetapi Roh jasmani (Rasajati) tidak bisa membangunkan tanpa sifat Qiyamuh Binafsihi (bangun sendiri), disebut masih hidup.
Mati; Rohnya disimpan terus tidak bisa kembali, tidur; Rohnya ditahan sementara, jadi tidur itu jalannya menuju kematian (tidur contonya mati), lihat Qur’an surat Az-Zumar : 42 diatas. Diayat bawah sendiri, “bagi orang yang berfikir”.
Tujuan memberi peluang terhadap manusia, tujuan ayat Al-Qur’an surat Az-Zumar : 42; bukan untuk orang yang malas berusaha, tetapi untuk orang yang menggunakan pikirannya, artinya kata-kata mati dan tidur beda alamnya (keadaannya).
Sebenarnya kitab-kitab suci itu untuk orang hidup didunia, bukan untuk orang yang sudah mati. Semua maksud kata-kata tadi pasti bisa dibuktikan waktu hidup didunia, seperti kata-kata Akhirat, kubur, surga, neraka, Luhmahfudz, gaib dan lain-lain. Semua itu bisa dijalani kalau mempunyai ilmu, sama artinya diayat Qur’an surat Ali-Imran : 143, dam surat Az-Zumar : 42, diatas; jelas dan terang sekali, sebenarnya tidur dan mati sama-sama dialami setiah hari.
Dikupas keterangannya;
1. Mati itu dialami semua makhluk yang mempunyai Roh, yang tadinya ditempat, lalu meninggalkan sebentar, karena Roh hidup abadi. Yang disebut Mati itu jasmaninya, yang tadinya dihidupi oleh Roh. Kata-kata yang cocok; mati itu kejadian sewaktu Roh meninggalkan jasmaninya, jadi mati itu sebenarnya keadaan mati, tetapi yang menghidupi tetap hidup, maka selanjutnya akan mengalami kejadian-kejadian lagi, yang dialami Roh sesudah meninggalkan jasmaninya. Alam Roh itu disebut alam kubur (Bardzahum).
2. Tidur itu pekerjaan setiap hari yang dikerjakan oleh jasmani, Tri indra dan pnca indra. Karena tidur itu tidak mati, karena Rohnya dikembalikan lagi pada waktu yang ditentukan oleh Allah, itu sebabnya masih hidup. Kalau kita tidak tidur bisa merasakan dan berusaha, dan sewaktu tidur sama dengan mati, karena alat-alat pikiran dan panca indra sebagian tidak berfungsi.

Keterangan-keterangan No.1 dan 2 diatas, bisa dikoreksi atau diteliti, yang beda yang mana, yang cocok yang mana, Keadaannya ?. umpama disamakan dengan shalat Tauhid, shalat Ma’rifat (Semadhi) itu disengaja memberhentikan, dan mati berhentinya pikiran dan panca indra.
Bahayanya shalat Tauhid atau shalat Ma’rifat; jika tidak bisa bangun lagi sama dengan bahayanya orang tidur tidak bisa bangun lagi. Jadi kalau keadaan mati dan tidak bangun Roh tetap hidup. Berhentinya Tri Indra sewaktu tidur itu kemauan sendiri, maka selalu terjadi mengigau, karena pikiran masih berhubungan dengan Roh jasmani (Rasajati-jawa), Mati, tidur dan shalat Tauhid, Roh jasmani masih ingat (eling-jawa).
Mati perjalanan melewati rasa ingat, kalau tidur melalui rasa lupa. Sebab mati itu tiba-tiba tersentak, kalau tidur sedikit demi sedikit baru terlelap. Kalau mati jasmani tersentak tiba-tiba, tidak ada yang menghalangi, karena Tri Indra rusak, dan tidur Roh jasmani masih berhubungan dengan pikiran, dan disebut mimpi. Jadi mati itu mimpi terus-terusan, di Dalil Al-Qur’an diatas; “orang tidur contoh orang mati”.


*

B. Pengalaman tentang mimpi
Sesudah pengalaman-pengalaman tentang mimpi, pengalaman Roh-roh dan rahasia dialam kubur bisa ditebak.
Al-Qur’an dan kitab-kitab suci lainnya disediakan untuk orang hidup didunia, jadi bukti dan kenyataannya disaksikan sewaktu masih hidup didunia. Tidur berhentinya panca indra, pikiran, perasaan dan keinginan (Astendriya-jawa) melewati alam yanng tidak merasakan apa-apa, kejadiannya selalu merasa melewati tidak merasakan, pokoknya pasti melewati tidak merasakan.
Kalau pekerjaan ahli shalat Tauhid (shalat Khusyuk) sama dengan tingkatan-tingkatan alam Ma’rifat (At’tauhid). Kalau tidur tidak merasaka, terus tidur nyenyak dan bangun pagi keadaannya tidak mimpi, lalu berada dialam tidak tahu, tidak merasa apa-apa (lahir sekali tidak ingat), Layu Kayafu; tidak merasakan apa-apa. Keadaan tidak merasakan apa-apa tadi sebenarnya naik kealam Tauhid, karena tidur merasakan kalau sudah bangun, perjalanan sangat cepat, 3 menit perasaannya seperti 3 jam bahkan berhari-hari. Dan kalau mimpi tidak merasakan, lalu sekejap mengalami bentuk sebagian yang sudah dialami sewaktu tidak tidur; menceritakan maling, diwaktu tidur mimpi dimalingi, jadi sangat jelas; sewaktu tidak tidur orang merasakan melalui panca indra, pedas, asin, suara, melihat, rasa-rasa tadi kalai dihambat oleh tidur pasti hilang, karena panca indra diam atau berhenti.
Jadi rasa mana yang masih ada?
Perasaan dalam mimpi seperti nyata, puas bahagia, sedih, takut, rasanya seperti siang hari, waktu tidak tidur. Sebenarnya tidak merasakan apa-apa, karena panca indra, pikiran, keinginan tidak bekerja, dan keadaan yang disuntik morpin (bius) itu tergantung lama dan tidaknya mimpi (tidur).
Dalam pengalaman mimpi selalu mengalami susah, takut dam lelah, itu semua menjadi ingatan, walaupun sudah bangun dari tidurnya, duduk dan berdiri. Contohnya begini; yang membuat takut; dikejar oleh Harimau, larinya sangat kencang, masih kejar juga, lalu menita tolong sama orang, orangnya hanya melihat saja, lalu ikut lari. Hampir setiap orang mengalami mimpi seperti itu, dan yang merasakan kita sendiri, anak, istri, tidak bisa merasakan walaupun didalam mimpi dimintai tolong. Hilangnya kejadian-kejadian tadi, kalau yang mimpi sudah bangun, hanya mengingat sedikir-sedikit, bahkan tidak ingat sama sekali.
1. Waktunya bangun yang sudah ditentukan.
2. Waktu mimpi Roh jasmani bisa berhubungan dengan pikiran seperti membangunkan.

Kalau tentang mengalami mimpi Roh jasmani (rasajati-jawa) tidak bisa berhubungan dengan panca indra, dan seperti apa kejadiannya, jawabnya tetap mengalami bagaiman perjalanan mimpi yang menakutkan yang dirasakan oleh Roh jasmani sendiri, teruis menerus karena tidak bangun lagi, jadi orang tidak bisa menghilangkan rasa takut tadi.
Bagaimana rasanya dialam kubur; Roh jasmani tetap merasakan seperti mimpi tadi. Keterangannya; walaupun tidak merasakan apa-apa sewaktu tidur, tetapi orang tetap merasa takut, ngeri, was-was, gembira dan senang dan lain-lain. Jikalau mau berpikir seperti contoh-contoh tadi, ternyata kita bisa mengetahui perasaan yang belum kita alami seperti dikubur, dan bisa membedakan matinya tetangga, ada urusannya dengan anak istri yang ditinggalkan. Apa didalam kubur bisa berkumpul lagi atau tidak?, bisa berkumpul kembali dengan istri yang menyusul mati?, apa didalam kubur bisa belajar ilmu, apa bisa minta tolong dengan orang tau kawan yang sangat akrab?. Semua itu nanti akan diterangkan dalam Hadist, Ijemak dan Qiyas, benar dan tidaknya bisa ketemu apa bisa masuk akal?, nyata dan tidaknya ditunjuk sendiri.

C. Pengalaman Mati dalam kubur.
Karena Dat meliputi sifat-sifat hidup dan abadi dimana saja tempatnya tetap melindungi, walaupun dialam kubur (Qubrun-Arab).
Orang mengatakan hanya berdasarkan hidup, untuk ukuran Allah tetap adanya, walaupun tidak bisa dirasakan orang yang masih hidup.
Sekarang menjawab pengalaman dialam kubur kita sendiri, begini arti Dalilnya, Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa : 102;

“mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka.”

Qur’an surat Ma’ariij : 10 – 11 ;

10. "dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya,”
11. “sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya,”

Sebarapa uniknya ayat-ayat suci itu, diatas sudah diterangkan bagaimana perjalanan tentang mimpi, bagaimana saja pengalaman mimpi untuk menebusnya, kalau yang mimpi sudah bangun, dan bagaimana pengalaman-pengalaman mati, keterangannya lebih kurang cocok dengan ayat-ayat suci sendiri. Jadi bagaimana pendapatnya, memang sama-sama kita belum mengalami mati (mencoba mati). Karena terbujur seperti bangkai, Roh yag keluar tetap hidup karena masih memiliki sifat No.10 Hayat (sifat 20), dan masih melekat Roh jasmaninya, sifat mana yang tidak bisa menolong dialam kubur, yang ikut menolong yaitu :
1. sifat Qiyamuh Binafsihi (berdiri sendiri),
2. Sifat Hayat (Hidup)
3. Sifat Bashar (mendengar).

Tidur melalui lupa, tetapi kalau mati melalui ingat (terang benderang), karena sifat ingat (mengetahui) bekerja yang melekat di Roh jasmani (rasajati-jawa), beda dengan mata terbuka (tidak tidur) Roh jasmani tidak bekerja, yang bekerja pikiran, dan tidak lekang dari lingkungan Tri Indra, sesudah mati panca indra, kijab dan pembatas (aling-aling-jawa), terpisah dari Roh Jasmani bekerjanya tanpa batas, luas tanpa tepi.
Perjalanan Roh yang meninggalkan jasmani sama alamnya diwaktu tidur, shalat Tauhid (Semadhi). Jasmaninya rusak atau busuk, panca indra dan Tri indra sebagian rusak, jadi Roh tidak bisa kembali ke jasmaninya. Kalau mimpi takut dan ngeri bisa bangun kembali, jika mati pengalaman Roh tetap bekerja merasakan pengalaman-pengalaman di alam kubur, tidak akan bangun jasmaninya, tetapi begitu tidak mengetahui batas waktunya.
Sewaktu hidup serakah tidak pernah puas, iri kepada orang lain, pengalaman Roh merasakan rekaman-rekaman apa yang diperbuat sewaktu hidup. Tentang mati Qur’an surat Al-Anbiyaa : 102; walaupun merasakan musik-musik atau dilanggar mobil hanya merasa takut terus-terusan;
1. Umpama sewaktu didunia berbuat jahat, mencuri, membunuh, Roh merasa menyesal, didunia merasa penyesalan, dialam kubur penyesalan itu terus berjalan tidak bisa dihilangkan dengan cara bagaimanapun. Allahuallam tergantung Allah yang memberi ampun.
2. Dari nafsu yang menggelora sewaktu didunia setelah ditinggalkan Roh (jiwa), lalu mengetahui jelas apa yang di inginkan sewaktu hidup, karena sewaktu Roh mencapai alam kubur rekaman (tabet-jawa) nafsu keinginan tadi bekerja terus tanpa henti, lamanya merasakan tidak enak tadi yang Maha kuasa yang mengetahui. Keterangan diatas tadi rasanya siksa kubur, disebut Neraka. Jadi perasaan-perasaan tadi hasil dari perbuatan sendiri, bagaimana bisa mengelak karena hasil perbuatan sendiri, jawabnya; tetap tidak bisa, karena sudah tidak punya akal dan pikiran.

Keterangan-keterangan Qur’an surat Al-Ma’ariij : 10-10; yang diatas itu peringatan sewaktu siksa kubur, tidak ada yang bisa menolong. Dialam kubur itu bisa melihat tetapi tidak bisa meminta dan selalu teringat pengalaman-pengalaman didunia, tetapi tidak bisa apa-apa, hanya bisa merasakan penyesalan.
Dibuku Wirid Hidayat Jati; adalah induknya Wirid. Kata terbangnya Roh akan menjadi induknya yang akan terjadi, supaya bisa hidup menjelma hidup lagi didunia. Keterangannya keinginan atau pamrih tidak hanya nampak, tetapi yang tidak nampak, yang nampak umpamanya; kekayaan, kedudukan, yang tidak nampak ingin dipuji, ingin dihormati, mengakibatkan hambatan bagi Tri indra (keinginan, pikiran, perasaan). Apa itu sudah benar hanya satu kalimat saja, ayat suci Qur’an surat Yaasiin : 12 ;

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Begitu keterangan pendapat buku Hidayat Jati diatas tadi, jadi jelas benar kata terbangnya Roh menjadi Induknya kejadian waktu ada sebabnya yang asalnya dari diri sendiri. Lalu umpama ada pengalaman dari luar menjadi pembatas (tirai), jadi ayat itu memberi keterangan yang menyebabkan mati, pulang lagi Roh yang ada dialam kubur masih melekat rekaman-rekaman pikiran, angan-angan, perasaan, yaitu keinginan sangat kuat, keterangan diatas tadi.
Roh dialam kubur gentayangan membawa beban sewaktu hidup didunia memakai badan jasmani lagi. Diatas sudah diuraikan; bila dimana-mana dan tempat manusia tetap diliputi sifat hidupnya Allah (Hayan-sifat20). Dimana saja bila Rohnya masih dikuasai nafsu, walaupun mati enam kali tetap mengalami hidup lagi memakai badan jasmani, disebabkan perbuatan panca indra dan tri indranya, bisa disebut hasil perbuatan sendiri, artinya akan membayar perbuatan sendiri, tidak putus-putus kalau belum mencapai keinginan nafsunya. Bagaimana jika perjalanan selanjutnya diatas bisa hidup memakai jasmani lagi, apa tidak berlawanan dengan keislaman?, oleh karena yang dibicarakan Rohnya manusia, jadi hidupnya pada manusia. Tujuan disini hanya membuka rahasia Innalillahi wa innaillaihi rajiun, asal dari Allah pulang ke Allah, tidak balik kedunia, diterangakan diatas manusia sebenarnya bisa menghadap manusia (Islamu), mempelajari semasa masih hidup memakai jasmani menyatakan Ma’rifatullah, seperti Ma’rifat (menghadap Allah), yaitu Nabi Muhammad Rasullullah, bisa juga ada yang mengatakan karena besok akan hidup lagi, kalau begitu saya berusaha yang lebih baik dari pada sekarang.
Kemauan itu bukan ilmu tetapi nafsu, menurut Dalil Qur’an surat As-Hamim As-Sajdah (Fushshilat) : 31;


“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.”

Apabila semua permintaan-permintaan dikabulkan, lalu kebanyakan berhenti dipermintaan, dianggap permintaan itu bisa datang sendiri, tujuan didunia terkabul, umpama berdasarkan usaha.
Roh itu lalu tidak masuk ke jasmani lagi, diayat jelas yang menhidupkan itu Allah. tanggung jawab Roh itu dialam kubur bisanya hanya kembali kepada Allah menurut kehendaknya dan kembali kedunia itu lagi kehendaknya juga.
Keterangan sedikit tentang penyesalan, susah, sakit, senang dan lain-lain, itu tanggung jawab Roh (jiwa) yang melekat ke Roh jasmani (Rasajati-jawa) yang menanggung perbuatan nafsu. Segala pekerjaan di dunia karena tercatat (terekam) jadi dialam kubur dingatkan (dibaca), menimbulkan penyesalan, tidak bisa dielakkan (disingkirkan) lagi. Dialam kubur ternyata nampak dan cerita apa-apa yang dikerjakan didunia, maka Dalil Qur’an surat Yaasiin : 65 ;

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.”

Ada Dalil menegaskan pada surat Yaassin : 12; lihat diatas, Roh jasmani yang dikerjakan dengan nafsu akan mengatakan sendiri, apa yang telah diperbuat didunia dan apa yang dialami orang sewaktu tidur. Dan Roh yang dikehendaki oleh Allah kembali poada jasmaninya, lalu menjadi bayi dilahirkan kedunia, tetapi tetap membawa catatan pekerjaan, watak, iri hati dan lain-lain. Semua yang dialam dunia belum terkabul (apa yang diinginkan) oleh nafsunya tetap terbawa (ngelepeti-jawa). Surat Yaasiin : 12 diatas ada kata dan menuliskan apa menjadi keinginan, artinya hidup didunia lagi dan membawa catatan-catatan keinginan. Dan begitu tadi lalu ada terjadinya bayi lahir, sesudah besar menjadi bandit, pendeta, ustad, dokter, presiden, teroris, berdagang, karena semua tadi membawa cita-cita keinginan yang sudah ditulis (cita-cita dimasa lampau).
Bung Karno putra kepala sekolah rakyat, sedikit penghasilannya, sewaktu masih mudah Bung Karno sekolah cerdas dan mencapai Insinyur, kenapa tidak kerja sebagai teknik bangunan, tetapi menjadi ahli politik. Contoh seperti itu tidak terjadi di Indonesia saja, dimana-mana banyak terjadi, yang penting tidak pilih orang. Sebenarnya jiwa yang masih dilengketi keinginan (nafsi cita-cita dahulunya) hanya sekedar memerlukan apa yang dicita-citakan nafsu waktu dahulunya.
Allah menghidupkan orang mati sebagai contoh diatas dihidupi Rohnya. Dari contoh-contoh tadi dapat dibedakan mana yang luhur dan mana yang rendah, dan biasanya tidak dirasakan dengan yang menjalani.
Sebelumnya menerangkan contoh diatas, yang asal dari paham Hindu, dan sudah beribu-ribu tahun umurnya, umumnya Kasta itu dianggap kelas di masyarakat, tetapi sebenarnya tidak begitu. Kasta itu adanya sebelum agama Islam dan terhadap masyarakat universal, maksudnya sebagian besar hidup yang sudah ditakdirkan orang tidak bisa membuatnya;
1. Brahmana; golongan para ahli pikir, semasa zaman dahulu sampai sekarang masih ada orang yang menjalani, pendeta, biksu, pertapa, Filsuf, tiosop, ahli tasawuf dan para aulia dan lain-lain.
2. Ksatria; itu terdapat watak, suka latihan perang, selalu membantu masyarakat, tidak pernah mengharapkan imbalan, takut curang, selalu kerja bakti. Ikhtikatnya untuk membela tanah air, itu bukan hanya prajurit saja, tetapi siapa saja didunia ini banyak orang yang gemar melatih diri.
3. Wahisya; itu yang selalu bekerja, dan berusaha.
4. Sudra; itu tata jiwa yang rendah, umpamanya penipu, perampok, pecompet, pengacau dqan sebagainya dan berada dimana saja.

Jadi Kasta iti sama dengan perjalanan manusia hidup, yang selalu menuruti kemauan nafsu. Yang menghendaki pembagian hanya pada Allah. cocok dengan ayat suci yang mengatakan; satu-satunya itu kutuliskan dalam kitab terang. Dibahasa pesantren kitab terang itu disebut Luh Hilmahfudz (garis hidup).

Rahasianya Allah;
a Menyediakan Luhilmahfudz, diciptakan didunia abadi sebelum ada umat, sudah tersedia didunia ada 4 bagian.
b Manusia bisa mempelajari Luhilmahfudz, dengan darma (kemauan) sendiri menghindari terbentuknya garis-garis hidup, hidup tadi umpamanya Islam, menyerahkan diri menuju kepada Ma’rifatullah (At’tauhid).

Menurut perjalanan yang dicontohkan; miskin, kaya, bandit, ustad, para cendikiawan, semua meneruskan cita-cita apa yang diinginkan. Jadi apa yang dikatakan menjelma lagi itu memang benar, bisa dicocokan apa yang dikatakan ayat suci Al-Qur’an surat Hamim As-Sajdah (Fushshilat) : 31, seperti diatas.
Karena Allah itu sifat adil, umpama Roh yang dihidupkan itu memakai badan buaya bukan badan manusia lagi. Sedangkan buaya musuh manusia, dan manusia menggunakan kekuasaannya lalu buaya itu ditembak, dipukuli ramai-ramai, bagaimana sakitnya. Maka bagi yang menuju Ma’rifat harus menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak baik, yang mengikuti kehendak nafsu, sama saja keterangan tentang ke Nabian. Nabi-nabi tadi sama tujuannya (tekadnya) menyatakan Allah itu satu dan Esa. Jadi Nabi Muhammad SAW hanya meneruskan kenabian Isa as. Jadi benar thiosof mempunyai tekad, umpama guru besar atau penuntun agung itu memakai badan jasmani kumpul bersama masyarakat yang awam. Umpama sang yang Wisnu menjelma pada salah satu tubuh manusia, karena ada Roh-roh yang luhur, yang menjelma tadi lalu ada kasta Brahmana (orang yang suci).
Di abad ke 14 ada salah satu perdana mentri maha pati Gajah Mada yang menjadikan negara Majapahit makmur dan aman. Disini yang penting bukan riwayat Gajah Mada, tetapi cita-citanya, untuk menyatukan Indonesia (nusantara). Bangsa Indonesia yang berdiri dari berbagai suku-suku, Gajah Mada mengatur kerajaan menjadikan payung (pelindung) untuk mengatur (undang-undang) Indonesianya Muqadimah, yaitu sila-sila yang menjadi dasar (Palsafah), tetapi sebelumnya sila-sila yang diinginkan tadi tidak terlaksana, terbentur dengan perselisihan antara penjabat kerajaan. Menurut sejarah tanah Jawa, walaupun tidak tercatat sila-silanya, yang diinginkan Gajah Mada yang sekarang disebut Pancasila. Sekarang disamakan dengan pidatonya Paduka Yang Mulia Presiden Dr. Ir. Sukarno, sewaktu menerima gelar Doktor (Dr) honoris Causa di Universitas negri Gajah Mada di Yogyakarta. Jadi artinya (ucapannya) “saya bukan pencipta Pancasila, tetapi saya seorang Sukarno, ini hanya sekedar pennggali sila-sila itu, sejak beratus-ratus tahun berakar didada bangsa Indonesia ialah Pancasila.”, Begitu artinya pidato yang bersangkutan dengan Wedaran Wirid. Begitu pidato waktu mengadakan rapat raksasa kongres rakyat di Surabaya. Sukarno dilahirkan di Blitar tahun 1901 Masehi, timbul pertanyaan; apa bung Karno sudah janjian dengan Patih Gajah Mada?, apa sebabnya cita-citanya bung Karno sama dengan Gajah Mada?, menurut tata lahir, wafatnya Gajah Mada sampai sekarang mencapai 600 tahun (sekarang ini 1956 M, catatan Wedaran Wirid Jilid I).
Mengulangi tentang kekuasaan Allah, yang berhubungan dengan tanggung jawab Roh dialam kubur (Barzah). Roh yang melaksanakan mendapat giliran menjelma dan menanti hari peradilan (Hisab-Arab), yaitu hari yang tidak ditentukan dialam Barzah, selamannya tetap membawa bekas (tabet-jawa) pada waktu dahulu (hidup yang dulu) bisa disebut Sunnah, Karma, disamakan dengan Dalil Al-Qur’an surat Ath-Thuur : 21 ;

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Artinya Dalil tadi salah satunya manusia terikat dengan perbuatannya sendiri.

Al-Qur’an surat Al-Fath : 23 ;

“Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.”
Cita-cita atau tujuan itu pasti timbul dari hatinya.
Artinya terlebih dahulu batinnya memerintah, baru jasmaninya mengerjakan (panca indra bekerja), akan tetapi bertindak menuju Tauhid (kasunyatan-jawa), yaitu macam-macam;
1. Gerak batin (belum dikeluarkan).
2. Dikerjakan menurut perintah batin.

Umpama dua-duanya tidak cocok, namanya menipu, dan yang ditipu diri sendiri. Pekerjaan yang tidak membohongi diri sendiri, terhadap nama Allah yang dua-duanya bekerja Adilnya Allah, semua yang menjadi permintaan itu besar kecil atau bekas kerjanya nafsu, indra akan dikabulkan (Qur’an surat Hamim As-Sajdah : 31, diatas).
Rekaman-rekaman nafsu bisa mendorong baik dan buruk seperti kata-kata Allah; Qur’an surat Al-Insyiqaaq : 19 ;


“sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”

Al-Qur’an surat Al-An’aam : 132 ;

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Ayat-ayat yang diatas menguatkan macam-macam keinginan yang berhenti hanya ingin, artinya manusia bisa merubah nasibnya diri sendiri kalau manusia tidak mau menyingkirkan keduniaan (harta dunia). Walaupun begitu dengan kehendak Allah yang meliputi diri kita bisa kita buang, terbukti di Qur’an surat Ar-R’adu : 11 ;


“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Umpama begitu lalu tidak cocok dengan ayat Al-Qur’an : Al-Fath diatas ada kata Sunnah atau undang-undang larangan Allah yang tidak bisa dirubah-rubah, lalu Qur’an surat Ar-R’adu ditas menyatakan; Allah tidak bisa merubah Sunnahnya, kenapa manusia di ijinkan merubah Sunnahnya?, sebelumnya Bab itu diterangkan contoh-contoh yang lewat di bahas dahulu menurut contoh; anak orang bodoh karena diasuh orang yang pikirannya cerdas membahas tentang agama (ketuhanan), sesudah dewasa disekolahkan di Pesantren, seketika anak itu bisa menjadi ahli kitab, apa hanya bertanya-tanya, apa memang belajar buku-buku Wirid tentang ketuhanan?. Walaupun anak tadi semangat sekali, tidak hanya bisa baca satu dua kata perihal ilmu Allah, sekarang anak itu menjadi ahli kitab yang di idam-idamkan tadinya. Perjalan seperti itu kalau diteliti kemauannya tercapai, bukan Allah yang merubah, tetapi dengan semangat diri sendiri (ket: Ar-R’adu : 11).
a) Bekas jiwa yang pertama, sekarang dipakai anak tadi, menyebabkan menjadi aktif bersamangat, artinya yang dikerjakan dengan tidak merasakan, dikendalikan dengan cita-cita hidup terdahulu.
b) Pendorongnya cita-cita yang terdahulu (cita-cita yang membekas), mengakibatkan adanya perjalanan seperti di a.), lalu terbukti hasilnya cita-cita sebelumnya.

Bagaimana duduk undang-undang (sunnah) tadi yang tidak bisa dirubah?, keterangannya; kalau hanya memohon saja tidak dikerjakan, hanya seperti dikatakan dalam ayat Qur’an surat Hamim As-Sajdah : 31 diatas. Ayat tadi bagi yang menuntut ilmu hanya diberitahu saja, umpama melihat uang 100 ribu dimeja, karena melihat lalu timbul keinginan, jadi ingin itu tercatat dikitab yang terang (Luhilmahfudz), jadi kitab terang itu bukan ukuran didunia walaupun ciptaan Allah, terbukti ada hukum Kasta; Brahmana, Ksatria, Wahisya dan Sudra. Bukti kasta ada didunia manapun sebelum ada Islam, Kristen, sudah ada yang disebut Pandita Pilosof, Sufi dan lain-lain. Setiap orang tidak perduli beragama atau tidak, bangsa apa saja, pasti ikut dalam kasta itu, Qur’an surat Al-Insyiqaaq : 19 diatas.
Terhadap pekerjaan hidup dimasyarakat tetap dalam ayat suci Al-Qur’an surat Al-An’aam : 132;. Ternyata kalau dipikir Kasta-kasta bagi Allah berada pada batin, artinya manusia sekedar menjalani, bagi ukuran orang hidup tidak mengetahui kasta-kastanya sendiri (derajatnya sendiri), tetapi perjalanan hidup menuju pada kastanya sendiri (luhilmahfudz), sebab yang menjalani cita-cita hanya jiwa (Roh) yang menurut cita-citanya dahulu sebelum masuk golongan menurut kastanya (derajat). Walaupun menempati kasta yang rendah sebelum memasuki kasta yang tinggi, tetap menjelma menuju kasta yang tinggi (evolusi) melalui tingkatan. Berapa lama menuju kasta yang tinggi Allah yang mengetahui.
Merubah nasib caranya harus berusaha, jangan hanya masa bodoh (menerima apa adanya) pada apa yang dialami sekarang itu hanya ingin mengharapkan keduniaan. Sejujurnya manusia yang luhur sifatnya yang sempurna tidak menerima keadaan dan langsung mengejar kemuliaan (hidup yang mulia) yang dinamai hidup abadi.
Manusia dimana saja pasti mempunyai keinginan menuju At’tauhid (nyuwiji-jawa), sebab sudah lama mengalami kastanya (melalui tingkat demi tingkat). Orang hidup harus sadar, segala perbuatan tetap menanggung lahir dan batin. Badan lahir penghalang musuh dari batin (dalam hati) merasa dendam, yang melekat pada Roh terdahulu. Keadaan yang begitu jumpa pula pada keluarga sendiri (anak, istri, mertua dan lain-lain), walaupun keluarga sendiri ada yang menjadi musuh, yang melekat tercatat Qur’an surat At-Taghaabun : 14 ;


“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Musuh artinya penjelmaan jiwa yang rendah, bagaimana seluk beluknya hidup menuju kasta (garis hidup yang sudah jelas). Sementara dari mana asalnya garis-garis hidup tadi (luhilmahfudz)?, jawabnya ada keterangan selanjutnya; karena garis-garis hidup itu mempunyai empat tingkatan, dibawah ada kesaksian yang membingungkan;
1. Si A tidak mengetahui garis hidupnya; karena tidak mengetahui, maka melamar pekerjaan langsung diterima, dijadikan staff kantor karena pandai dan memenuhi syarat.
2. Pada suatu hari Si A ditangkap karena ketahuan korupsi, lalu dihukum, keluarganya bingung merasa susah, dan pulang menjadi miskin lagi seperti lahir tidak punya apa-apa. Keluarga dari penjara Si A menjadi pengemis jalanan,walaupun memakai cara yang halus (membawa surat-surat miskin).

Lihat ayat Qur’an surat Al-An’aam : 132, Ar-R’adu : 11, dicocokan dengan surat Al-Fath : 23; keterangannya begini; menurut contoh diatas No.1; Allah tidak merubah sunnahnya (peraturan, undang-undang, surat terang), tingkat sudra tetap ada didunia. Dan pekerjaan Si A tadi tumbuh dari jiwa yang rendah (sudra), sebentar gagah, pangkatnya mentereng (tinggi) dan pintar, dan membuat Si A semangat menduduki keadaan, Qur’an surat Al-An’aam : 132; karena tidak dirasakan. Lalu menduduki ayat Qur’an surat Ar-R’adu : 11; Allah tidak akan merubah nasib seseorang, kalau mereka tidak merubah dirinya. Jadi berubahnya nasib Si A karena perbuatannya sendiri, bukan karena kehendak Allah, hanya kehendak nafsu. Umpama si A bisa mengendalikan nafsunya pasti tidak mengalami masuk penjara dan menjadi miskin lagi (sudra- derajat rendah). Karena kodratnya, jadi tidak bisa menghidari korupsi, jadi si A tetap menempati derajat rendah lagi (asor-jawa);
a) Sunnah itu peraturan hukum Allah, seperti ada kasta bunuh membunuh, itu benih tumbuh dan buah, bumi, planet berputar dari zaman dahulu, tidak pernah berubah.
b) Sunnah terhadap perjalanan ada 4 unsur; tetap ada tidak pernah berubah, tetapi bisa dirubah oleh orang yang hidup memakai jasmani, bisa berubah sedikit demi sedikit, umpama Sudra menjadi Wahisya, menjadi Ksatria, dan langsung menjadi Brahmana.
c) Luhiilmahfudz (kitab terang), garis-garis hidup, kaya, miskin, gila, sehat, pangkat dan lain-lain, semua tetap ada garis-garisnya, itu dimiliki orang masing-masing tetapi tidak ikut membuat, menyebabkan penjelmaan membawa bekas-bekas keinginan masa terdahulu, umpama bekas keinginan penjahat pasti menjadi penjahat, walaupun pangkat tinggi dan lain-lain, tetapi hidupnya menjadi penzinah dan korupsi, karena bekas cita-cita atau rekaman yang baik bisa menjadi mukmin dan pandita.

*******